Home / Jabodetabek / Stunting Kota Depok Terendah, Wenny Haryanto: Prestasi Ini Jangan Buat Kita Berpuas Diri
Anggota Komisi IX DPR RI Dra. Hj. Wenny Haryanto, SH menghadiri kegiatan Kampanye Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Kota Tahun 2022 bersama mitra kerja BKKBN, Sabtu (12/11).

Stunting Kota Depok Terendah, Wenny Haryanto: Prestasi Ini Jangan Buat Kita Berpuas Diri

DEPOK, SINDE – Anggota DPR RI Komisi IX Dra. Hj. Wenny Hartanto, SH mengatakan angka stunting di Kota Depok terendah se-Jawa Barat. Namun, dirinya menghimbau untuk jangan berpuas diri dengan angka tersebut.

“Prestasi ini jangan membuat kita berpuas diri, meskipun Depok terendah diangka 12,3 persen, dan terendah kedua Kota Bekasi yang keduanya merupakan Dapil saya. Tetapi, angka stunting ini harus terus ditekan, bahkan dikurangi hingga mencapai zero stunting,” katanya, saat menghadiri kegiatan Kampanye Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Kota Tahun 2022 bersama mitra kerja BKKBN, Sabtu (12/11).

Dalam kesempatan itu, Wenny pun menjelaskan penyakit stunting yang menyerang anak di bawah 1.000 hari harus benar-benar diperhatikan. Pasalnya, stunting dapat mengancam bonus demografi pada Tahun 2045.

“Bonus Demografi Indonesia Emas tahun 2045, adalah kondisi ketika 70% dari penduduk Indonesia dengan rentang usia 15 – 64 tahun dalam kondisi produktif (mampu berkarya dengan maksimal-red). Nah, bonus demografi itu akan gagal atau terancam gagal, apabila stunting tidak dikendalikan, artinya edukasinya kurang,” ujar politikus dari Partai Golkar ini.

Ia pun mengatakan, Presiden RI Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 72 tahun 2021 yang memerintahkan BKKBN menekan angka stunting.

“Targetnya pada Tahun 2024 yakni di angka 14 persen. Sedangkan, angka stunting di Indonesia saat ini masih 24,4 persen,” ujar anggota legislatif Dapil Jabar VI Kota Depok dan Kota Bekasi ini.

Baca Juga:   Cegah Covid -19, Koramil 03/Sukmajaya Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Politikus perempuan dari Partai Golkar ini menambahkan, bahwa BKKBN dalam menjalankan tugas dari Presiden tidak bisa sendiri. Sehingga, ia menyarankan, agar masyarakat dan lembaga kesehatan dapat bekerjasama melakukan langkah pencegahan menekan angka stunting.

“Misalnya, ibu hamil harus minum obat penambah darah, ibu hamil harus punya nutrisi bagus yaitu 4 sehat 5 sempurna. Kemudian, ketika bayi lahir harus lakukan imunisasi dasar yang lengkap setiap bulan, lalu berikan ASI ekslusif selama enam bulan, menerapkan prilaku hidup bersih harus ada MCK, ketika ibu hamil jangan suaminya merokok dekat ibu tersebut,” jelasnya

Selain itu, lanjut Wenny, ciri-ciri anak terkena stunting dapat dilihat dari pertumbuhan gigi terlambat, kemampuan fokus berkurang, pertumbuhan tubuh melambat, wajah lebih muda, pubertas terlambat, pada usia 8-10 tahun akan menjadi lebih pendiam, hingga menghindari kontak mata dengan orang sekitar.

“Nah stunting sendiri itu adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi kronis pada seribu hari pertama pertumbuhan anak, dan itu menyebabkan anak gagal dalam pertumbuhan tubuh dan otaknya. Nah itu yang harus kita atasi,” pungkas Wenny.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala BKKBN Pusat Martin Suanta, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jabar Angela Sri Melani, Kepala DP3AP2KB Kota Depok Nessi Annisa Handari, Bhabinkamtibnas Polsek Pancoran Mas Aiptu Setiawan, Tokoh Pemuda Kota Depok, beserta para kader Posyandu dan Posbindu di kota Depok.

(po/SINDE)


Baca juga

Wali Kota Depok Resmikan Rehabilitasi 11 Kantor Pemerintahan

DEPOK, SINDE – Wali Kota Depok, Mohammad Idris meresmikan 11 gedung pemerintahan tingkat kecamatan dan …